Rabu, 23 November 2016

Efek Timbal Terhadap Kesehatan

 

Public Health Home » Efek Timbal Terhadap Kesehatan

posted on 07/11/2016 by KESMAS

Efek Timbal Terhadap Kesehatan

Filed under KESEHATAN MASYARAKAT

0

Efek Pencemaran Timbal Terhadap Kesehatan

Diantara semua sistem pada organ tubuh, sistem syaraf merupakan sistem yang paling sensitif terhadap daya racun yang dibawa oleh logam Pb.Pengamatan yang dilakukan pada pekerja tambang dan pengolahan timbal menunjukkan bahwa pengaruh dari keracunan Pb dapat menimbulkan kerusakan otak, penyakit-penyakit yang berhubungan dengan otak, sebagai akibat dari keracunan Pb adalah epilepsy, halusinasi, kerusakan pada otak besar.

Pemaparan Pb secara terus menerus melalui saluran pernafasan dapat mempengaruhi sistem haemapoistik. Salah satu akibat yang sering terjadi adalah anemia. Anemia yang berasal dari Pb tersebut merusak dan menyerang sel darah merah, memendekkan umur sel darah merah, menurunkan kadar retikulosit, meningkatkan kandungan logam Fe dalam plasma darah dan merusak sintesis heme.

Senyawa-senyawa Pb yang terlarut dalam darah akan dibawa oleh darah ke seluruh sistem tubuh, pada peredarannya, darah akan terus masuk keglomerulus yang merupakan bagian ginjal. Dalam glomerulus tersebut terjadi proses pemisahan akhir dari semua bahan yang dibawa oleh darah, apakah masih berguna bagi tubuh atau harus dibuang karena tidak diperlukan lagi. Dengan ikut sertanya senyawa timbal yang terlarut dalam darah ke sistem urinaria akan mengakibatkan terjadinya kerusakan pada saluran ginjal.

Keracunan timbal yang parah menyebabkan ketidaksuburan, keguguran, bayi meninggal dalam kandungan, dan kematian bayi baru lahir. Sedangkan pada pria akan menyebabkan penurunan kemampuan reproduksi sperma. Organ lain yang dapat diserang karena keracunan timah hitam adalah jantung.

Jika telah terjadi keracunan timbal dalam tubuh, maka beberapa usaha pengobatan dapat dilakukan.Pengobatan keracunan timah hitam yang dikenal sampai saat ini adalah dengan memberikan CaNa2EDTA (calsium dinatrium etilen diamin tetra acetc acid). Sebelumnya dikenal pengobatan dengan memindahkan timbal kedalam jaringan lunak tulang. Gejala klinik dapat diatasi, tetapi tidak efektif untuk mengatasi kerusakan yang progresif akibat keracunan ini. Kombinasi dimerkapol dan CaNa2EDTA lebih efektif dalam meningkatkan ekresi timah hitam dalam urin dan menurunkan kadar timbal dalam urin dan menurunkan kadar timbal dalam darah.

Di pasaran, Na2EDTA tersedia dalam bentuk tablet 500 mg tetapi agak jarang dipakai karena sukar larut oleh saluran cerna. Selain itu tersedia dalam bentuk ampuls yaitu, larutan sebesar 25% CaNa2EDTA yang disuntikan secara intramusculair tiga kali sehari sebesar 25 mg/kg BB, dengan interval delapan jam.

Reference: Palar. H, 2004, Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. PT RinekaCipta.Jakarta.

Incoming Search Terms:

pengobatan timbalpenyakit yang berkaitan dengan na dan pb

Tagged with  

Efek Pencemaran Timbal Efek Pencemaran Timbal Terhadap Kesehatan Efek Timbal Terhadap Kesehatan

3R Pengelolaan Sampah

 

Public Health Home » 3R dalam Pengelolaan Sampah

posted on 14/11/2016 by KESMAS

3R dalam Pengelolaan Sampah

Filed under KESEHATAN LINGKUNGAN

0

Pengertian 3R dalam Pengelolaan Sampah

Reuse : Penggunaan kembali barang yang telah digunakana untuk kepentingan yang sama, misalnya penggunaan kertas pada kegiatan administrasi di rumah sakit bisa digunakan kembali pada lembar kertas yang masih kosong atau belum digunakan.

Recycle : Bahan digunakan lagi untuk kegunaan yang lebih (recycle down = untuk kepentingan yang lebih rendah), seperti limbah cair dapat diolah kembali sehingga dapat digunakan untuk kegiatan menyiram tanaman rumah sakit.

Recovery : Proses pemulihan, misalnya obat-obatan yang tidak habis tidak dibuang begitu saja, karena obat adalah bahan kimia yang pembuangannya harus mengikuti aturan tata laksana pemusnahan bahan kimia.

Cara Penularan Penyakit Tuberkulosis Paru

 

Public Health Home » Cara Penularan Penyakit Tuberkulosis Paru

posted on 15/11/2016 by KESMAS

Cara Penularan Penyakit Tuberkulosis Paru

Filed under PUBLIC HEALTH

0

Penyebab dan Cara Penularan yang Penting pada Penyakit Tuberkulosis  Paru

Menurut laporan WHO tahun 2012,  prevalensi kasus penyakit tuberkulosis paru di Indonesia sebesar 289/100.000 penduduk. Terjadi kasus baru sebanyak 450.000 setiap tahun, dengan jumlah kematian sekitar 64.000/tahun. Data juga menunjukkan, angka insidensi kasus tuberkulosis paru BTA positif sekitar 189/100.000 penduduk.

Data diatas sejalan dengan rilis hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) pada tahun 1995 (Depkes RI, 2011), yang menunjukkan bahwa penyakit tuberkulosis paru di Indonesia merupakan penyebab kematian ranking ketiga, setelah penyakit jantung dan penyakit saluran pernapasan akut.

Pengertian dan penyebab penyakit tuberkulosis  paru, menurut Schiffman (2011), merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh kuman ”Mycobacterium Tuberculosis”. Bakteri tersebut biasanya masuk kedalam tubuh manusia melalui saluran pernafasan ke dalam paru, kemudian menyebar dari paru kebagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, melalui sistem limfa, melalui saluran pernafasan atau menyebar langsung kebagian tubuh lainnya. Senada, menurut Widoyono (2008), tuberkulosis paru merupakan penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis. Sumberpenularan TB Paru adalah penderita tuberkulosis BTA positif, ketika batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet. Seseorang dapat terinfeksi ketika droplet terhirup ke dalam saluran pernafasan.

Memperhatikan begitu seriusnya dampak kesehatan masyarakat yang ditimbulkan penyakit TB paru, berikut beberapa informasi yang penting untuk kita ketahui seputar Penyakit Tuberkulosis  Paru

Bakteri Penyebab Penyakit Tuberkulosis  Paru

Bakteri tuberkulosis ditemukan oleh Robert Koch pada tahun 1882, tumbuh lambat dengan membelah diri setiap 18-24 jam pada suhu yang optimal. Bakteri ini hidup sebagai parasit intrasel sehingga pertahanan tubuh yang terpenting terhadap bakteri tersebut dilakukan oleh sistem imunitas seluler. Masa inkubasi penyakit TB paru, sejak terinfeksi lesi primer atau reaksi uji tuberkulin yang bermakna adalah 4-12 minggu. Risiko progresif menjadi tuberkulosis paru atau tuberkulosis di luar paru adalah 1-2 tahun setelah terinfeksi dan mungkin menetap sebagai infeksi laten (Amu, 2008).

Menurut Rieder et al. (2009), bakteri tuberkulosis terdapat dalam butir-butir percikan dahak yang disebut droplet nuclei dan melayang di udara untuk waktu yang lama sampai terhisap oleh orang atau mati dengan sendirinya kena sinar matahari langsung. Pada percobaan yang diplakukan pada binatang menunjukkan bahwa droplet nuclei dapat melalui bronkhiolus yang paling halus berukuran 2-3 mikron, sehingga diperkirakan jumlah bakteri yang dapat masuk ke alveolus dan menyebabkan penyakit tidak lebih dari satu kuman saja.

Menurut Depkes RI (2006), sumber penularan penyakit tuberkulosis paru dengan BTA positif, yang dapat menularkan kepada orang yang berada disekelilingnya, terutama kontak erat pada waktu batuk/bersin. Penderita menyebarkan bakteri ke udara dalam bentuk droplet (dalam bentuk percikan dahak). Droplet yang mengandung bakteri dapat bertahan di udara pada suhu kamar. Percikan dahak yang mengandung bakteri tuberkulosis yang dibatukan keluar, dihirup oleh orang sehat melalui jalan nafas dan selanjutnya berkembang biak di paru-paru.

Cara Penularan Penyakit Tuberkulosis  Paru

Pada perjalanannya bakteri ini banyak mengalami hambatan antara lain di hidung (terhambat oleh bulu hidung) dan lapisan lendir yang melapisi seluruh saluran pernafasan dari atas sampai ke kantong alveoli. Bila penderita baru pertama kali ketularan bakteri tuberkulosis ini, terjadilah suatu proses dalam tubuhnya (paru) yang disebut Primary Complex of Tuberculosis (PCT) yang terdiri dari focus di paru dimana terjadi eksudasi dari sel karena proses dimakannya bakteri tuberkulosis oleh sel macrophag  (Rieder et al., 2009).

Menurut Misnadiarly (2006), di negara dimana prevalensi tuberkulosis paru tinggi kebanyakan anak-anak sudah terinfeksi oleh tuberkulosis paru pada tahun-tahun pertama dari kehidupannya, namun yang kemudian menjadi penyakit tuberkulosis paru  hanya sedikit saja. Terdapat dua kemungkinan yang terjadi menyusul pembentukan Primary Complex of Tuberculosis (PCT)  ini, yaitu:

Dapat sembuh dengan sendirinya karena proses penutupan fokus primer oleh kapsul membran yang akhirnya akan terjadi perkapuran.Beberapa bakteri akan ikut terlepas ke dalam pembuluh darah dan dapat menginfeksi organ-organ yang terkena. Infeksi yang demikian ini di sebut Post Primary Tuberculosis (PPT) berupa infeksi pada paru, laring dan telinga tengah, kelenjar getah bening di leher, saluran pencernaan dan lubang dubur, saluran kemih, tulang dan sendi

Menurut Anna (2012), penularan tuberkulosis paru terjadi karena bakteri dikeluarkan dengan cara batuk atau bersin oleh penderita menjadi droplet nuclei (percikan dahak) dan terhirup masuk ke pernapasan. Daya penularan ditentukan oleh banyaknya bakteri yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif (gradasi BTA), makin menular penderita tersebut. Secara epidemiologis, seorang penderita tuberkulosis paru positif dapat menularkan pada 10-15 orang setiap tahunnya. Sementara menurut Depkes RI (2011), seseorang yang tertular bakteri tuberkulosis disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya disebabkan oleh daya tahan tubuh yang rendah, karena gizi yang buruk dan infeksi HIV/AIDS.

Menurut Depkes RI (2011), di Indonesia, titik berat penanggulangan program tuberkulosis ditekankan pada penemuan penderita baru, dengan beberapa target seperti angka kesembuhan, angka kesalahan pemeriksaan laboratorium (error rate) yang kecil. Namun hal ini sulit tercapai, diantaranya karena  terjadinya tuberkulosis paru merupakan kasus yang multicausal.

Refference, antara lain: Achmadi, U.F., 2008. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah, UI- Press, Jakarta; Amu F.A, 2008. Hubungan Merokok dan Penyakit Tuberkulosis Paru. Jurnal Tuberkulosis Indonesia, Vol.5, pp 1 – 8, Oktober 2008, Jakarta; Depkes RI, 2006. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Edisi 2, Cetakan I,  Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. Rieder,H.L., Chiang, C.Y., Gie, R.P, Enarson, D.A., (2009). Crofton’s Clinical Tuberculosis.  Third edition. International Union Against Tuberculosis and Lung Disease, Teaching Aids at Low Cost, ed.  Oxford: Macmillan Education Ltd, Paris.; Sanropie, D., 1989. Pengawasan Penyehatan Lingkungan Pemukiman,Proyek Pengembangan, Pendidikan, Tenaga Kesehatan, Jakarta; Misnadiarly, 2006. Pemeriksaan Laboratorium : Tuberkulosis dan Mikrobakterium Atipik, Cetakan Pertama, PT. Dian Rakyat, Jakarta; Depkes RI, 2011. Perumahan dan Pemukiman. Undang-Undang Nomor 1 tahun 2011, Jakarta. Widoyono, 2008. Penyakit Tropis: Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan Pemberantasannya. Erlangga, Jakarta

Kriteria Status Gizi

 

Public Health Home » Kriteria Status Gizi

posted on 16/11/2016 by KESMAS

Kriteria Status Gizi

Filed under GIZI MASYARAKAT

0

Pengertian dan Kriteria Status Gizi

Beberapa pengertian status gizi menurut beberapa ahli sebagai berikut :

Keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Dibedakan antara status gizi kurang, baik dan lebih. Status gizi juga merupakan ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu (Almatsier, 2004).

Keadaan yang diakibatkan oleh keseimbangan antara jumlah asupan zat gizi dengan jumlah kebutuhan zat gizi oleh tubuh untuk berbagai proses biologis (Jahari, 2004).

Pada dasarnya pengertian gizi tidak terbatas hanya terkait dengan kesehatan tubuh seperti ketersediaan energi, fungsi membangun dan memelihara jaringan tubuh, perkembangan otak,kemampuan belajar dan produktivitas kerja. Masalah gizi saat ini erat terkait juga dengan kemampuan secara ekonomi dan kesejahteraan. 

Untuk menilai status gizi seseorang, dilakukan dengan pemantauan status giz, dengan salah satu metode yang digunakan dengan metode antropometri. Antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Ukuran tubuh seperti berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas dan tebal lemak di bawah kulit. Status gizi dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti asupan energi, protein, serta zat besi yang diperlukan untuk sintesis hemoglobin.

Indikator berat badan sering dipilih dan digunakan untuk menentukan status gizi karena, selain karena tingkat kemudahan, juga karena murah.Pengukuran berat badan yang dilakukan berulang-ulang dapat menggambarkan pertumbuhan anak.

Pengukuran status gizi dengan indikator berat badan menurut umur (BB/U) merupakan salah satu indeks antropometri yang memberikan gambaran massa tubuh seseorang. Massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan yangmendadak seperti terkena penyakit infeksi, menurunnya nafsu makan atau menurunnya jumlah makanan yang dikonsumsi (Gibson, 1990)

Dalam keadaan normal dan keadaan kesehatan baik, keseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan zat gizi terjamin maka berat badan berkembang mengikutibertambahnya umur. Dalam keadaan abnormal ada dua kemungkinan perkembangan berat badan, yaitu berkembang cepat atau lebih lambat dari keadaan normal. Berdasarkan karakteristik berat badan inimenurut umur dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk mengukur status gizi saat ini.

Gizi Buruk

Menurut Soekirman (2000) selain BB/U ada indikator status gizi yang juga sering digunakan, yaitu indikator berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB).Indikator BB/TB (wasting status) adalah merupakan indikator yang terbaik digunakan untuk menggambarkan status gizi saat kini jika umur yang akurat sulit diperoleh dan lebih sensitif serta spesifik sebagai indikator defisit massa tubuh yang dapat terjadi dalam waktu singkat atau dalam periode waktu yang cukup lama sebagai akibat kekurangan makan atau terserang penyakit infeksi.

Sedangkan standard pemantauan status giziumum digunakan dengan standar bakuantropometri WHO-NCHS – World Health Organization-National Center for Health Statistics, sebagai berikut:

Klasifikasi Status Gizi menurut WHO-NCHS

INDEK

STATUS GIZI

KETERANGAN

Berat Badan MenurutUmur (BB/U)

Gizi Lebih

Gizi Baik

Gizi KurangGizi Buruk

≥ 2 SD

-2 sampai + 2 SD < 2 sampai 3 SD < -3 SD

Tinggi BadanMenurut Umur (TB/U)

Normal

Pendek (Stunted)

-2 sampai + 2 SD

< -2 SD

Berat Badan MenurutTinggi Badan

(BB/TB)

Gemuk

Normal

Kurus (Wasted)Sangat kurus

≥ 2 SD

-2 sampai +2 SD
<-2 sampai 3 SD

< -3 SD

Interpretasi dari keadaan gizi anak dengan indikator BB/U, TB/U dan BB/TB yang digunakan pada survei khusus, akan menjadikan kesimpulan bisa lebih tajam. Adapunkesimpulan dari penilaian indikator status gizi adalah sebagai berikut  (Soekirman, 2000).

a.  Jika BB/U dan TB/U rendah sedangkan BB/TB normal ;
kesimpulannya keadaan gizi anak saat ini baik, tetapi anak tersebut mengalami masalah kronis, karena berat badan anak proporsional dengan tinggi badan.

b.  BB/U normal ; TB/U rendah; BB/TB lebih ; kesimpulannya anak
mengalami masalah gizi kronis dan pada saat ini menderita kegemukan (Overweight) karena berat badan lebih dari proporsional terhadap tinggi badan

c.   BB/U , TB/U dan BB/TB rendah ; anak mengalami kurang gizi berat

dan kronis. Artinya pada saat ini keadaan gizi anak tidak baik dan riwayat masa lalunya juga tidak baik

d.  BB/U, TB/U dan BB/TB normal ; kesimpulannya keadaan gizi anak
baik pada saat ini dan masa lalu

e.  BB/U rendah; TB/U normal; BB/TB rendah ; kesimpulannya anak
mengalami kurang gizi yang berat (kurus), keadaan gizi anak secara umum baik tetapi berat badannya kurang proporsional terhadap Tinggi badannya karena tubuh anak jangkung

Article Source

Soekirman (2000). Ilmu gizi dan aplikasinya.Jakarta : Dirjen Pendidik Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.Gibson, R.S.,Ferguson,E.L & Lehrfeld,J., (1998) Complementary foods for infant feeding in developing countries : their nutrient adequacy and improvement.Almatsier,S. (2004) Prinsip dasar ilmu gizi.Jakarta: PT Gramed Pustaka Utama.

Miningkatkan Status Gizi dengan Zat Besi

 

Public Health Home » Meningkatkan Status Gizi dengan Zat Besi

by KESMAS

Meningkatkan Status Gizi dengan Zat Besi

Filed under GIZI MASYARAKAT

1

Pentingnya Zat Besi untuk Meningkatkan Status Gizi Balita

Status gizi dipengaruhi oleh PMT-P dan asupan energi, protein dan zat besi yang diperlukan untuk sintesis hemoglobine. Zat besi merupakan mikro mineral yang paling banyak terdapat dalam tubuh manusia dan hewan, yaitu sebanyak 3-5 mg dalam tubuh manusia dewasa. Besi mempunyai fungsi esensial sebagai alat untuk mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh. Selain itu besi (Fe) juga sebagai alat angkut elektron di dalam sel, dan sebagai bagian terpadu berbagai reaksi enzim didalam jaringan tubuh. Kebutuhan besi untuk anak usia 1-3 tahun adalah sebesar 8 mg/org/hr. Tulisan berikut diambail dari beberapa sumber seperti, Prinsip dasar ilmu giz oleh Almatsier (2004), dan Ilmu gizi klinis pada anak oleh Pudjiadi (2005).

Ada dua jenis besi yang berbeda di dalam makanan yaitu zat besi yang berasal dari hewan bentuknya adalah heme dan dari nabati bentuknya adalah nonheme. Zat besi yang berasal dari heme merupakan penyusun hemoglobin dan mioglobin. Bahan makanan yang mengandung besi heme adalah daging, ikan, unggas serta hasil olahannya. Penyerapan zat besi yang terkandung dalam makanan dipengaruhi oleh jumlah dan bentuk kimianya. Penyerapan dipengaruhi oleh faktor yang membantu dan faktor penghambat (Almatsier, 2004).

Sedangkan keterkaitan antara zat besi dan vitamin C, bahwa vitamin merupakan faktor yang membantu penyerapan zat besi yang berasal dari makanan. Penambahan asam askorbat sekurang­kurangnya adalah 50 mg asam askorbat ke dalam makanan, baik dalam bentuk murni atau sayuran dan buah-buahan akan sangat membantu mempercepat penyerapan zat besi.

Defisiensi besi pada anak kebanyakan disebabkan oleh proses pertumbuhan yang cepat, asupan makanan yang kurang mengandung zat besi, dan kehilangan darah yang banyak akibat adanya infestasi cacing. Selain itu etiologi defisiensi besi adalah akibat malabsorbsi, Kurang Energi Protein (KEP) dan pengeluaran besi yang berlebihan. Pada umumnya defisiensi besi terjadi pada anak yang memang telah ada dalam keadaan keseimbangan besi yang minimal sehingga gangguan yang ringan akan dapat menyebabkan keseimbangan besi yang negatif (Pudjiadi,2005).

Besi adalah mikromineral yang paling banyak dalam tubuh manusia dan hewan. Dalam tubuh terdapat 2,5 sampai 4 gram besi (3000 sampai 5000 mg) dimana 2 sampai 2,5 gram terdapat dalam sel darah merah sebagai komponen pembentuk hemoglobin. Besi yang diekskresi oleh tubuh setiap hari hanya 1 mg. Dari jumlah besi yang terdapat pada tubuh orang sehat tersebut, 60% (1800-3000 mg) terdapat dalam eritrosit, 30% sebagai cadangan dan 20% berada dalam berbagai organ lainnya sebagai enzim dan lain-lain.

Secara kasar 1 % sel-sel darah merah berumur 120 hari, jadi sesudah itu sel-sel darah merah menjadi mati, dan diganti dengan yang baru atau didegradasi. Proses penggantian sel-sel darah merah lama dengan sel­sel darah merah yang baru disebut turnover. Setiap hari turnover zat besi berjumlah 35 mg, tetapi tidak semuanya harus didapatkan dari makanan. Sebagian besar sebanyak 34 mg di dapat dari penghancuran sel-sel darah merah yang tua, kemudian disaring oleh tubuh agar dapat dipergunakan lagi oleh sumsum tulang untuk pembentukan sel-sel darah merah baru. Hanya 1 mg zat besi dan penghancuran sel-sel darah merah tua yang dikeluarkan oleh tubuh melalui kulit, saluran pencernaan dan air  kencing. Jumlah zat besi yang hilang lewat jalur ini disebut sebagai kehilangan basal atau iron basal losses (Husaini, 1989).

Pedoman WHO Kualitas Udara Dalam Ruangan

 

Public Health Home » Pedoman WHO Kualitas Udara dalam Ruangan
 by KESMAS

Pedoman WHO Kualitas Udara dalam Ruangan

Filed under KESEHATAN LINGKUNGAN

0

Pedoman WHO Untuk Kontrol Kualitas Udara dalam Ruangan, terkait Kelembaban dan Jamur

Terdapat sebuah pedoman yang dikeluarkan WHO terkait kontrol kualitas udara dalam ruangan (WHO guidelines for indoor air quality : dampness and mould). Pedoman ini menurut kami penting sebagai referensi tupoksi rekan-rekan Sanitarian, misalnya untuk melengkapi referensi penyehatan rumah.

Berikut beberapa kuotasi yang diambilkan dari pedoman tersebut :

Sebagaimana diketahui, kita menghabiskan sebagian besar waktu, sepanjang hari, dalam ruangan : di rumah, kantor, sekolah, fasilitas kesehatan, atau tempat publik lainnya. Kualitas udara yang kita hirup di gedung-gedung merupakan faktor penentu penting dari kesehatan kita.

Polusi udara dalam ruangan karena faktor kelembaban, keberadaan mikroorganisme, merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia. Sekitar 1,5 juta kematian setiap tahun terkait dengan pembakaran bahan bakar padat dalam ruangan (seperti di dapur), yang sebagian besar terjadi di kalangan perempuan dan anak-anak di negara berpenghasilan rendah.

Pencemaran mikroba adalah elemen kunci terjadinya polusi udara dalam ruangan. Hal ini disebabkan oleh karena terdapat ribuan spesies bakteri dan jamur, tumbuh di dalam rumah ketika kelembaban optimal tersedia untuk pertumbuhan mereka.  Efek yang paling penting dari kondisi ini, berupa terjadinya peningkatan prevalensi gejala sakit pernafasan, alergi dan asma serta gangguan dari sistem kekebalan.

Cara yang paling penting untuk menghindari resiko yang merugikan kesehatan adalah pencegahan (atau minimisasi) kelembaban pada permukaan interior dan struktur bangunan, sehingga mampu meminimasi reseiko pertumbuhan mikroba.

Pengetahuan tentang kualitas udara dalam ruangan, dan kaitan eratnya dengan kesehatan serta faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas udara ruangan merupakan kunci untuk dipahami semua pihak, sehingga dapat diambil tindakan yang memungkinkan tindakan oleh pemangku kepentingan, termasuk pemilik bangunan, pengembang, pengguna dan penghuni – untuk menjaga udara dalam ruangan tetap bersih.

Pedoman WHO ini antara lain bertujuan untuk melindungi kesehatan masyarakat dari risiko kesehatan akibat kelembaban, terkait dengan pertumbuhan mikroorganisme dan terjadinya kontaminasi dalam ruangan tertutup. Pedoman ini didasarkan pada tinjauan komprehensif dan evaluasi dari bukti ilmiah yang dikumpulkan oleh kelompok  ahli dari berbagai multidisiplin ilmu.

Masalah kualitas udara dalam ruangan diakui sebagai faktor risiko penting bagi kesehatan. Udara dalam ruangan juga penting karena populasi menghabiskan sebagian besar waktu di dalam bangunan.

Pencemaran mikroba melibatkan ratusan spesies bakteri dan jamur yang tumbuh di dalam ruangan ketika kelembaban cukup tersedia. Paparan mikroba kontaminan secara klinis dikaitkan dengan gejala penyakit pernapasan, alergi, asma dan reaksi imunologi .

Beberapa bukti menunjukkan peningkatan risiko rhinitis alergi dan asma. Beberapa studi intervensi juga menunjukkan bahwa perbaikan pada aspek kelembaban dapat mengurangi resiko kesehatan yang merugikan.

Setelah membaca pedoman ini, sesuatu yang mungkin tidak kita fokuskan selama ini, bahwa beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat kelembanban dalam ruangan antara lain seperti kebocoran air, hujan, dan banjir, infiltrasi melalui selubung bangunan, bingkai logam pada jendela, pipa air berpendingin dari AC, dan lainnya. Kegiatan inspeksi yang teliti, jika memungkinkan diikuti pengukuran yang tepat dapat digunakan untuk mengkonfirmasi kelembaban ruangan dan pertumbuhan mikroba. Hubungan antara kelembaban, paparan mikroba dan efek kesehatan dapat diukur secara tepat.

Pedoman ini secara garis besar berisi beberapa detail topik penting berikut :

Pedoman dan manajemen kualitas udara dalam ruanganKelembaban Bangunan dan pengaruhnya terhadap eksposur dalam ruangan untuk polutan biologi dan non-biologisFrekuensi kelembaban dalam ruanganPengaruh kelembaban pada kualitas lingkungan dalam ruanganKelembaban yang terkait polutan dalam ruanganKontrol  Kelembaban dan ventilasiSumber kelembabanJamur dan tungau sebagai indikator kualitas bangunanPeran ventilasiSistem ventilasiLingkungan eksternal dan sumber-sumber polusi yang berhubungan dengan ventilasiVentilasi dan penyebaran kontaminanKontrol terhadap kelembaban  dalam bangunanLangkah-langkah untuk melindungi kerusakan akibat kelembabanEfek  kesehatan yang berhubungan dengan kelembaban dan jamurUlasan bukti epidemiologiAspek Klinis pada  efek kesehatanMekanisme ToksikologiBukti terkait efek kesehatanEvaluasi terhadap risiko kesehatan pada manusia

Pedoman lengkap dapat rekan-rekan akses pada website WHO, dengan keyword sebagimana dimaksud.

Sanitarian and Public Health Info

Higiene Sanitasi Mencegah Infekso Nosokomial

 

Public Health Home » Higiene Sanitasi Mencegah Infeksi Nosokomial
by KESMAS

Higiene Sanitasi Mencegah Infeksi Nosokomial

Filed under KESEHATAN LINGKUNGAN

0

Upaya dan Tindakan Higiene Sanitasi untuk Mencegah Infeksi Nosokomial

Kita memahami pengertian sanitasi selama ini sebagai sebuah tindakan terkait dengan lingkungan, sementara higiene terkait dengan tindakan kesehatan secara personal. Berikut beberapa upaya terkait higiene dan sanitasi untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial. Terkait dengan hal tersebut, ada baiknya kita pahami terlebih dahulu pengertian higiene dan sanitasi. Beberapa diantarany sebagai berikut:Sanitasi adalah suatu upaya pengawasan faktor-faktor lingkungan fisik manusia (ruang, peralatan-peralatan, dan lain-lain) yang mempunyai atau mungkin mempunyai pengaruh terhadap perkembangan fisik manusia, kesehatan maupun kelangsungan hidupnya (Siswanto, 2002).Higiene adalah kebersihan perorangan, secara kumunal didifinisikan pemeliharaan kesehatan masyarakat dengan penyediaan air bersih, sanitasi yang efisien, pemelihaaan rumah yang baik, dan lain-lain. Personal hygiene adalah kebersihan perorangan, tindakan perorangan yang dilakukan untuk memelihara kebersihan dirinya sendiri untuk menuju sehat (Hartono, 2002).Higiene adalah suatu ilmu tentang pengenalan, evaluasi, dan pengontrolan gangguan kesehatan dalam suatu lingkungan tertentu dengan tujuan agar dapat diperoleh taraf kesehatan yang maksimal (Setyawati, 2004).

Pemeliharan ruang bangun dan peralatan non medis yang baik dapat mencegah penularan penyakit yang ditularkan melalui udara seperti influenza, TBC, batuk-batuk, campak, dan melalui alat-alat non medis seperti: infeksi pada luka bakar, luka operasi. Lantai, dinding dan langit-langit harus selalu dijaga kebersihannya. Cara-cara pembersihan yang dapat menebarkan debu sedapat mungkin dihindari. Dianjurkan untuk selalu menggunakan pembersihan cara basah dengan menggunakan kain pel yang tepat dengan antibiotik yang sesuai.

Sanitasi ruang bangun dan peralatan non medis dimaksudkan untuk menciptakan kondisi ruang dan konstruksi serta pengaturan peralatan non medis yang nyaman, bersih, dan sehat di lingkungan rumah sakit agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap pasien, pengunjung dan karyawan rumah sakit disamping juga dapat memperkecil kemungkinan rusaknya sarana dan peralatan. Kondisi ruang dan konstruksi dipengaruhi oleh kualitas udara, keadaan bangunan dan pengaturan pengisian/penggunaan ruang. Bakteri dan virus dapat berada di udara ruang akibat pemeliharaan ruang dan bangun yang tidak memadai.

Kesehatan dan kebersihan tangan secara bermakna mengurangi jumlah mikroorganisme penyebab penyakit dan mampu meminimalisasi kontaminasi silang, misalnya dari petugas kesehatan ke pasien, atau sebaliknya. Cuci tangan dianggap merupakan salah satu langkah yang paling penting untuk mengurangi penularan mikroorganisme dan mencegah infeksi. Beberapa hasil studi memperlihatkan kemungkinan besar penularan penyakit infeksi dari satu pasien ke pasien lainnya dapat melalui tangan petugas. Banyak penelitian lain menyimpulkan bahwa kesehatan dan kebersihan tangan dapat mencegah penularan mikroorganisme dan mengurangi frekuensi infeksi nosokomial.

Menurut Tietjen (2004), selama bertahun ¬tahun, para perawat dan dokter secara bersungguh-sungguh mengkaji dan menulis mengenai masalah tersebut. Berbagai laporan telah mencatat efektifitas tindakan cuci tangan dan prosedur kesehatan dan kebersihan tangan lainnya dan mengungkapkan bahwa cuci tangan dan penggunaan sarung tangan adalah cara yang menghemat biaya untuk masalah infeksi nososkomial yang ditularkan oleh petugas kesehatan terus meningkat secara global.

Bentuk personal higiene sendiri menurut Setyawati (2004), diadakan dengan berbagai cara yaitu secara promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Secara promotif personal hygiene diupayakan melalui:

Pendidikan dan pelatihanPenjagaan kebersihan tubuh, penjagaan diri agar selalu sehat, dan tidak menjadi pembawa penyakit (carier)Pemakaian pakaian/APD yang sesuai dengan jenis pekerjaan yang dibebankanPemeriksaan awal sebelum tenaga kerja di pekerjakanPemeriksaan kesehatan secara berkala/periodik dan spesifikMenjauhkan diri dari adat kebiasaan yang tidak baik.

Refference:

Setyawati, L. 2004. Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (MK3). Kumpulan Makalah Hiperkes Keselamatan Kerja.Siswanto, H. 2002. Kamus Populer Kesehatan Lingkungan. Penerbit Buku Kedokteran EGC. JakartaHartono, A. 2002. Kamus Kesehatan . Penerbit Buku Kedokteran EGC. JakartaTietjen, L. 2004. Panduan Pencegahan Infeksi untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan dengan Sumber Daya Terbatas. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta.